Sejarah Onang-Onang

Daftar Isi

Onang-onang adalah salah satu seni adat batak angkola. Onang -onang dilakukan pada upacara pernikahan  karena orang tua  merasakan sukacita menikahi  putra mereka. Orang yang menyanyikan lirik  onang-onang  disebut  paronang-onang. Paronang-onang ketika bernyanyi memakai harus memiliki rasa empati dan simpati dan bisa  merasakan keluhan keluarga pengantin wanita. 

Paronang-onang harus memiliki suara yang manis dan suasana hati yang tenang dalam bernyanyi, tidak terganggu oleh situasi dan tidak merasa diremehkan oleh para pendengar dan suhut.  Jika Paronang-onang tidak merasa nyaman dengan keadaan apa pun, nyanyian para penyanyi yan g ia nyanyikan  menjadi lebih pendek dan suaranya tidak merdu. 

Puisi lirik yang dinyanyikan oleh Paronang -onang disampaikan  menggunakan  pilihan kata yang baik, mengungkapkan syukur, sejarah keluarga singkat dari masa kanak -kanak sampai dewasa atau sukses diperjuangan hidup, nasihat, pujian, dan doa. Selain itu onang -onang juga dinyanyikan untuk memperingati perjuangan dalam menghadapi kehidupan pahit untuk mencapai kesuksesan. Teks ini tergantung pada konteks yang dinyanyikan  di upacara dan dinyanyikan oleh  laki-laki. Setiap paronang -onang berbeda dalam menciptakan versi dari  pembawanya sesuai  untuk tujuan upacara.

Tujuan dari onang-onang pada upacara tradisional adalah untuk mengekspresikan kerinduan hati oleh Sang  suhut karena ia diingatkan akan perjuangan  hidup, mengingat masa-masa sulit bersama keluarga, sehingga keluarga bisa  memanfaatkan peristiwa yang diceritakan sekaligus memotivasi pengantin sehingga mereka ingin berjuang dalam menjalankannya rumah tangga meskipun banyak tantangan yang dihadapi tetapi harus tetap bersabar.Onang-onang (ende-ende) adalah merupakan nyanyian pada kesenian tor tor. Lirik onang-onang disesuaikan dengan status sosial penarinya namun melodinya tetap sama. Onang-onang ini dilantunkan dengan menggunakan bahasa Angkola. Isi  dari onang-onang itu sendiri berupa nasehat.

Posting Komentar