Mengenal Onang-onang: Tradisi Lisan Masyarakat Angkola dan Mandailing
Menurut Kamus Angkola Mandailing Edisi II (2016), Onang-onang adalah lagu adat yang setiap bait syairnya diawali dengan kata onang. Lagu tersebut biasanya dinyanyikan dalam berbagai prosesi adat sebagai media penyampaian doa, nasihat, penghormatan, maupun ungkapan rasa syukur. Orang yang membawakan Onang-onang dikenal sebagai paronang atau panggora, sedangkan di wilayah Mandailing penyanyinya juga dikenal dengan sebutan panjeir.
Hingga kini belum terdapat sumber sejarah yang dapat memastikan kapan tradisi Onang-onang mulai berkembang di tengah masyarakat Angkola dan Mandailing. Namun, sejumlah literatur menyebutkan bahwa istilah onang diduga berasal dari kata inang yang berarti "ibu".
Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, dikisahkan seorang anak yang merindukan ibunya kemudian memanggil sang ibu sambil melantunkan nyanyian yang berbunyi "onang-onang". Dari kisah tersebut, Onang-onang dipahami sebagai ungkapan kerinduan dan kasih sayang seorang anak kepada ibunya.
Seiring perjalanan waktu, makna Onang-onang mengalami perkembangan. Jika pada awalnya lebih banyak digunakan sebagai ekspresi kerinduan dan kesedihan, kemudian fungsinya meluas menjadi media untuk menyampaikan rasa syukur, kebahagiaan, doa, dan harapan dalam berbagai momentum penting kehidupan masyarakat.
Dalam tradisi Angkola dan Mandailing, Onang-onang memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Syair-syair yang dilantunkan menjadi media komunikasi budaya yang berisi doa, petuah, penghormatan kepada leluhur, serta ungkapan rasa syukur atas berbagai peristiwa penting.
Berdasarkan berbagai kajian, Onang-onang dahulu ditampilkan pada beragam kegiatan adat, seperti:
upacara pernikahan;
kelahiran anak;
memasuki rumah baru (mangompoi bagas);
penyambutan tamu kehormatan; dan
berbagai acara syukuran adat lainnya.
Dalam perkembangannya, tradisi tersebut mengalami perubahan. Saat ini Onang-onang lebih sering dijumpai pada pesta adat pernikahan berskala besar yang dikenal sebagai Horja Godang atau Adat Na Godang. Pada kegiatan adat lainnya, pertunjukan Onang-onang mulai jarang dilaksanakan.
Pada pelaksanaan Horja Godang, Onang-onang bukan hanya menjadi pelengkap acara, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan rangkaian upacara adat. Nyanyian tersebut mengiringi pelaksanaan tari Tor-tor, yaitu tarian adat yang memiliki makna simbolis dalam kehidupan masyarakat Angkola dan Mandailing.
Tor-tor menjadi media penghormatan kepada seluruh unsur kekerabatan sesuai dengan sistem sosial masyarakat yang berlandaskan prinsip Dalihan Na Tolu. Setiap kelompok kekerabatan memperoleh giliran untuk menari sesuai urutan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pelaksanaan Tor-tor pada Horja Godang umumnya berlangsung secara berurutan sesuai dengan kedudukan masing-masing kelompok adat. Rangkaian tersebut meliputi:Tor-tor Suhut Bolon, yaitu tarian yang dibawakan oleh keluarga penyelenggara acara.
Tor-tor Kahanggi, yakni tarian yang dibawakan oleh keluarga semarga atau saudara sedarah.
Tor-tor Anak Boru, yaitu kelompok keluarga yang menerima perempuan dari marga penyelenggara melalui ikatan perkawinan.
Tor-tor Raja-raja Torbing Balok, yakni para tokoh adat dari wilayah sekitar.
Tor-tor Raja Panusunan Bulung, yaitu pemimpin adat yang memiliki kedudukan tertinggi dalam suatu wilayah adat.
Tor-tor Naposo Nauli Bulung, yaitu kelompok pemuda dan pemudi.
Tor-tor Namora Pule, yaitu tarian yang dibawakan oleh kedua mempelai sebagai penutup rangkaian adat.
Pada setiap sesi Tor-tor tersebut, seorang paronang akan melantunkan syair yang disesuaikan dengan kelompok yang sedang menari. Isi syair dapat berupa pujian, doa, harapan, nasihat, sejarah keluarga, hingga penghormatan kepada para tamu yang hadir.
Sebagai salah satu bentuk sastra lisan, Onang-onang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan penggunaan bahasa Angkola dan Mandailing, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai adat, etika, sistem kekerabatan, dan sejarah keluarga kepada generasi berikutnya.
Kemampuan seorang paronang dalam menyusun syair secara spontan menunjukkan kekayaan tradisi lisan masyarakat Angkola dan Mandailing. Oleh karena itu, Onang-onang tidak hanya dipandang sebagai kesenian, melainkan juga sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan.
Onang-onang merupakan warisan budaya takbenda masyarakat Angkola dan Mandailing yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan adat. Melalui syair-syair yang sarat makna, tradisi ini menjadi media penyampaian doa, nasihat, penghormatan, serta pengikat hubungan kekerabatan. Meskipun kini frekuensi pementasannya mulai berkurang, terutama di luar upacara pernikahan adat, keberadaan Onang-onang tetap menjadi simbol kekayaan budaya Tapanuli Bagian Selatan yang patut dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Posting Komentar