Pelaksanaan Workshop Tradisi Lisan Onang-onang Program Inovasi Seni Nusantara (PISN)
Workshop diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian tradisi lisan Onang-onang, memperkuat literasi budaya, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Angkola dan Mandailing. Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan inovasi pertunjukan Onang-onang agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan penyampaian sambutan oleh Ketua Program Inovasi Seni Nusantara, Dedi Zulkarnain Pulungan. Dalam pemaparannya disampaikan bahwa tradisi lisan Onang-onang memiliki nilai sejarah, sosial, dan budaya yang sangat penting sebagai media penyampaian pesan moral, identitas masyarakat, serta sarana pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi penerus. Namun demikian, keberadaan Onang-onang saat ini menghadapi berbagai tantangan, di antaranya menurunnya minat generasi muda, dominasi hiburan digital, serta masih terbatasnya dokumentasi dan publikasi yang sistematis.
Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai sejarah dan perkembangan tradisi lisan Onang-onang, fungsi dan kedudukannya dalam upacara adat masyarakat Angkola dan Mandailing, teknik penyampaian syair, serta peran paronang sebagai pelaku utama dalam pertunjukan Onang-onang. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang melibatkan peserta, pelaku seni, tokoh masyarakat, dan komunitas budaya untuk membahas berbagai tantangan serta strategi pelestarian tradisi lisan di era digital.
Berdasarkan hasil diskusi, diperoleh beberapa rekomendasi sebagai tindak lanjut kegiatan, yaitu meningkatkan dokumentasi tradisi lisan dalam bentuk tulisan, audio, dan video; mengembangkan inovasi pertunjukan yang tetap berpedoman pada nilai-nilai adat; memperluas keterlibatan generasi muda melalui pelatihan dan kegiatan budaya; memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi dan promosi budaya; serta memperkuat kolaborasi antara komunitas seni, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam pelestarian Onang-onang.
Sebagai tindak lanjut dari workshop, panitia merencanakan penyelenggaraan Festival Onang-onang pada tanggal 8 Agustus 2026. Festival tersebut akan diikuti oleh peserta berusia 13 sampai dengan 30 tahun yang tergabung dalam kelompok beranggotakan satu orang paronang dan dua orang parnotor. Setiap kelompok akan menampilkan pertunjukan Onang-onang berdurasi sekitar 20 menit sebagai bagian dari upaya regenerasi pelaku seni tradisi sekaligus memperkenalkan Onang-onang kepada masyarakat yang lebih luas.
Workshop Tradisi Lisan Onang-onang berlangsung dengan tertib, lancar, dan mendapat antusiasme yang tinggi dari seluruh peserta. Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin sinergi yang berkelanjutan antara masyarakat, komunitas seni, pemerintah, dan perguruan tinggi dalam menjaga eksistensi Onang-onang sebagai warisan budaya takbenda yang memiliki nilai penting bagi identitas budaya masyarakat Angkola dan Mandailing.
Dokumentasi Kegiatan: https://youtube.com/watch?v=QsrRp-AAEiY&feature=shared

Posting Komentar